Berita Tinju Dunia
Blog seorang penggemar berat tinju

Saat Penentuan bagi petinju wanita Indonesia Indri Sambaimana

JAKARTA, Kompas.com – Pada dekade 1960 hingga 1990-an, Indonesia merupakan satu kekuatan yang diperhitungkan di dunia tinju amtir di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara.

Pada masa lalu, kita memiliki banyak petinju amatir yang mampu menerobos kekuatan petinju-petinju daratan Asia seperti Wim Gommies, Ferry Moniaga, Frans VB, Syansul Anwar hingga Adrianus Joppy Taroreh pada 1980-an.

Namun sejalan dengan dengan merosotnya popularitas tinju amatir di kalangan anak muda Indonesia, prestasi di luar negeri pun menjadi meredup. Jangankan di tingkat Asia, di tingkat regional Asia Tenggara, kita samasekali tidak diperhitungkan lagi. Situasinya berbanding terbalik dengan semakin populernya tinju profesional di tanah air.

Di arena SEA Games pun paceklik itu terlihat dengan jelas. Sudah beberapa SEA Games ini tim tinju Indonesia pulang dengan hampa tanpa membawa medali emas. Nama besar Indonesia seperti tenggelam di bawah nama-nama dominator lama seperti Thailand dan Filipina, namun juga dengan munuculnya kekuatan baru seperti Vietnam.

Di arena SEA Games XXV Laos, Desember ini, Indonesia meloloskan tiga petinju di babak final yang akan berlangsung Rabu (16/12/2009). Di kelas terbang 51 kg puteri, akan menghadapi petinju Filipina Albania Annie. Kemudian di kelas bantam 54 kg Matius Mandingan akan menghadapi petinju Thailand Chatchai Buddee dan di kelas berat ringan Ahmad Amri akan bertarung dengan petinju Malaysia, Muhd Fairuz Aswan Mas.

Buat petinju puteri Indri Sambaimana, final besok pukul 14.00 akan menjadi satu titik penting dalam hidupnya. Menekuni tinju sejak usia 16, puteri kelahiran Halmahera Utara, 1 Juni 1990 ini merasa bekalnya sudah cukup untuk menjadi juara.

Melihat sosok dan latar belakangnya, banyak yang heran Indri akan menekuni olahraga yang keras ini. Ia merupakan puteri dari seorang pendeta, Lewian Sambaimana dan Nolce Hariaway. Meski selalu dekat dengan ayat-ayat kitab suci, Indri kecil ternyata juga dekat dengan tindak kekerasan di sekolahnya.

“Saya sering dihukum di sekolah oleh guru karena berkelahi. Lawannya justru anak laki-laki,” kata Indri. Melihat kebiasaan ini, ayahnya kemudian justru menyuruhnya berlatih tinju di sasana Banteng Jaya di Manado pada usia 13 tahun. Setelah itu, gurunya justru memintanya mewakili sekolah apabila ada kejuaraan tinju di daerah mau pun tingkat provinsi. Setelah itu jalan semakin mulus buat Indri untuk ke pentas nasional mau pun dunia.

“Awalnya saya takut sekali melihat ring. Saya sering membayangkan bagaimana rasanya terpukul jatuh dan terkapar di ring di hadapan ribuan orang,” katanya. “Namun sekarang ketakutan itu sudah hilang. Begitu pukulan keras memukul wajah saya, saya langsung lupa pada ketakutan itu.”

Di atas ring besok, semoga “kemarahan” itu akan membimbing Indri mencatat sejarah dengan menjadi juara.

No Responses to “Saat Penentuan bagi petinju wanita Indonesia Indri Sambaimana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: